Era milenial sekarang ini banyak dihiasi dengan iklan di Youtube dan Social Media. Padahal, saluran digital untuk online branding tidak hanya Youtube dan medsos saja, mesin pencari termasuk salah satu saluran digital yang banyak dilupakan oleh brand-brand besar di Indonesia.

Lantas, dengan latahnya, bisnis UKM melakukan hal yang sama. Mereka melakukan pemasaran digital hanya di Instagram saja. Ketika semakin lama tidak mendapatkan dampak dari upaya digital marketing, biasanya mereka bertanya-tanya apa sebabnya.

Jumlah Pengguna Internet di Indonesia

Jumlah pengguna internet di Indonesia ada 170 juta. Berikut data jumlah pengguna sosial media, Youtube dan Google Search Engine per Januari 2019:

  • Facebook 130 juta pengguna
  • Instagram 62 juta pengguna
  • Youtube 150 juta pengguna
  • Google Search Engine 100 juta pengguna.

Ini membuktikan bahwa brand selain harus hadir di beberapa saluran digital yang strategis, tidak hanya Youtube dan Social Media saja.

Seperti yang dilansir oleh CNN Indonesia tahun 2018,

“Sebanyak 86 persen pengguna internet Indonesia melakukan belanja online. Nilai ekonomi internet di Indonesia pada 2018 diperkirakan mencapai US$27 miliar. Dengan rata-rata pertumbuhan majemuk belanja konsumen per tahun naik 49 persen.” 

Pernah saya naik kereta dari Jakarta ke Solo dan kembali lagi ke Jakarta. Di setiap stasiun, banyak sekali orang yang menunduk memperhatikan gadget mereka ketimbang televisi yang juga ada di depan mereka.

Ini artinya, kebanyakan mata lebih tertuju pada layar gadget. Televisi yang merupakan sarana branding ATL Anda sudah tidak terlalu dilihat lagi.

Memang, menyadari Youtube sebagai media promosi mainstream tidak sepenuhnya salah. Tapi pemirsa online berbeda dengan pemirsa offline, dan pendekatan pemasaran di ranah digital juga berbeda dengan pemasaran tradisional.

Kenapa Online Branding Harus Libatkan Mesin Pencari?

Sekali lagi, untuk dapat melakukan online branding secara optimal, maka kita harus jujur pada diri kita sendiri. Bahwa kita tidak akan langsung membeli motor yang kita lihat di Youtube atau membeli kosmetik yang kita lihat di Instagram. Pun kita sedang ingin membeli, tentu kita akan mencari perbandingan dan referensinya terlebih dahulu di Google Search Engine.

Selain itu, beberapa survey menemukan bahwa 84% pengguna internet akan membeli jika telah mendapatkan referensi dari pihak lain.

Ini artinya, saluran digital Google search engine memiliki karakteristik tersendiri. Pengguna Google search engine – dalam hal online branding – adalah mereka yang sudah tertarik dengan Brand atau produk Anda.

Sementara Youtube dan Sosmed, telah berhasil membuat pemirsa online tertarik terhadap brand / produk Anda, namun ketika mereka mencari informasi lebih di mesin pencari Google, mereka tidak menemukan Brand / Produk Anda hadir disana!.

Apa artinya? Ya, konsumen potensial Anda menemukan Brand dan produk dari para pesaing, dan akhirnya pesaing Anda yang mendapatkan penjualan.  Sedangkan Anda, memiliki website yang memenuhi syarat pun tidak ada, sementara pesaing Anda memiliki website untuk dapat hadir di search engine.

Hal seperti yang saya jelaskan di atas merupakan kesalahan umum dari pemasaran digital yang dialami oleh brand-brand besar di Indonesia (hingga saat ini) dan juga di luar negeri (2 – 3 tahun lalu). Akhirnya, penjualan brand-brand besar tersebut menurun.

Inilah mengapa online branding di mesin pencari Google sangatlah penting. Anda tidak ingin hasil jerih payah kegiatan “pemasaran digital” di Youtube dan Sosmed malah dinikmati oleh para pesaing Anda, karena produk ataupun brand Anda tidak hadir di search engine.

Sudah Melakukan Digital Marketing Tapi Hasilnya Minim?

Jika online branding Anda selama 2 tahun ini tidak memiliki dampak pada pertumbuhan bisnis, atau malah mengalami penurunan, Anda tidak harus keluar dari gelanggang “online branding”.

Ingatlah, pesaing Anda akan terus melakukan pemasaran digital dan mereka akan beruntung jika Anda tidak melakukan branding online lagi.

Yah, sekarang ini memang sudah sangat jelas ada pergeseran cara orang dalam melakukan sesuatu. Inilah dampak dari transformasi digital yang harus kita terima agar dapat beradaptasi.

Maka, sebaiknya pelajari lagi bagaimana pemasaran digital yang efektif untuk bisnis agar pengalaman tersebut dapat menjadi hikmah.

Satu hal yang paling penting adalah dengan memahami konsep pemasaran digital dengan baik dan benar. Kemudian Anda dapat mempelajari pola perilaku konsumen.

Online branding memerlukan distribusi yang strategik untuk dapat efektif dan efisien. Tentu Anda tidak akan mau membayar iklan atas penayangan ke Pria untuk sebuah produk celana dalam Wanita bukan?.

Anda dapat menganalisa data penyebaran strategis berdasar geografis dan tren, disamping target pemirsa secara demografi. Dengan cara ini, selain dapat mengoptimalkan upaya online branding Anda, juga dapat “menyenangkan” distributor Anda.

Pemasaran melalui mesin pencari tidak boleh ditinggalkan, karena justru ini akan menjadi penentu efektivitas online branding Anda. Percuma saja jika Anda mengeluarkan biaya pemasaran digital yang besar namun tidak hadir di search engine.

Kesimpulan:

Pada pemasaran tradisional, iklan yang efektif untuk menanamkan brand Anda ke benak konsumen adalah dengan menampilkannya sebanyak minimal 7x. Akan tetapi di era dimana orang lebih banyak menerima informasi dari internet setiap harinya, pendekatan tersebut telah menjadi usang.

Ketika Brand Anda hadir di Youtube dan Sosial Media, dengan jangkauan fantastis sekalipun, tidak akan efektif untuk meningkatkan pertumbuhan bisnis jika brand Anda tidak hadir di beberapa kata kunci potensi yang dicari oleh para konsumen di google.

Hanya karena Anda gagal paham mengenai pola perilaku konsumen, penjualan produk menurun dan akhirnya banyak karyawan yang terpaksa harus di PHK. Jangan biarkan ini terjadi, stop hedonisme dalam bidang pemasaran.

Saatnya sekarang untuk menghubungi konsultan digital marketing yang tersertifikasi dan memiliki strategi yang terbukti dapat meningkatkan pertumbuhan bisnis para client.